Baik itu tetangga yang kami kenal baik, tetangga lain rt yang hanya kenal wajah, tukang sayur, sampai tukang koran kami yg kebetulan lewat. Dan buat kami sapaan tersebut biasa2 saja tidak ada yang istimewa disana.
Sampai suatu ketika kami bertemu dengan seorang yang bernama "Abah".
Si "Abah" inilah yang akhirnya memberi kami pengertian baru tentang arti sebuah sapaan.
sang Abah ini pekerjaan sehari2nya adalah bertanam di tanah2 kosong (menunggu dibangun pemiliknya) di sebuah komplek perumahan yang lumayan elit di kawasan Bandung utara. Si Abah berfikir daripada tanah2 ini nganggur.....maka lebih baik memanfaatkannya untuk bertanam apa saja, mulai dari singkong sampai kacang suuk (dengan seizin pemilik tanah tentunya).
Dikarenakan area dimana si Abah ini bertanam adalah areal perumahan elite yang sebagian besarnya sudah terbangun. Maka sehari2nya si Abah tentu saja mau tidak mau berinteraksi dengan para penghuni rumah2 elite ini.
Padahal penampilan sehari2 si Abah ini benar2 kontras dengan penampilan para penghuni kompleks.
Kebayangkan dengan penampilan khas seorang Petani (tapi lebih tepatnya seperti pemulung), baju hitam yang sudah agak lusuh....dan dengan beberapa robekan di sana- sini (mungkin karena sudah tua usianya).Maka yang belum mengenalnya tentu agak malas berinteraksi dan menyapa si Abah ini.
Tapi buat yang sudah mengenalnya dan juga tahu bahwa si "Abah" ini orang yang baik dan jujur , maka tak segan menyapa Abah, bahkan memberinya secangkir dua cangkir kopi.
Dan rupanya si Abah ini memperhatikan benar ,siapa2 saja yang suka menyapanya dan memberinya sekedar senyuman. Atau kebalikannya,siapa2 saja yang enggan menyapanya atau bahkan mengabaikan keberadaannya.
Ada satu cerita dari orang yang enggan berinteraksi dengan Abah dan enggan beramah2 dengan orang seperti Abah, sebut saja namanya bapak "X".
Suatu Hari rumah bapak "X" ini kecurian besar2an di siang hari bolong..Dengan kejadian ini tentu saja bapak "X" seperti "kebakaran jenggot" dan meminta bantuan kepada warga sekitar terutama orang2 kecil yang berada disekitar rumahnya seperti contohnya penjaga warung, tukang sampah dll yang barangkali saja tahu kejadiannya dan dapat memberi sedikit informasi mengenai pencurian tersebut, ciri2 pencurinya, atau kapan tepat kejadiannya.
Tapi apa yang terjadi mungkin sudah bisa ditebak. Dikarenakan kemalasannya berinteraksi dengan orang kecil disekitar rumahnya. Tidak satupun dari mereka yang mau menolong memberi sekedar informasi. Semuanya bungkam, sepertinya gantian mereka2 ini yang sering diabaikan keberadaannya ganti mengabaikan bapak "X" ini. Dengan kejadian bungkamnya mereka, Bapak X merasa terpukul, merasa tidak ada yang mau menolongnya.Tapi saya kurang tau kejadian selanjutnya.....apakah dengan kejadian ini bapak X sadar dan mau membuka dirinya untuk berinteraksi dengan "Abah2" disekitar rumahnya.
Lain cerita bapak X lain pula cerita mereka2 yang ramah dan sering menyapa orang seperti "Abah". Si Abah bercerita lagi kepada saya, bagaimana dia dengan sukarelanya (tanpa dibayar) menjaga rumah2 mereka, memperhatikan siapa saja yang keluar masuk rumah mereka, apakah ada keanehan di rumah mereka dll. Sepertinya inilah balasan si "Abah" untuk mereka2 yang rajin menyapanya.
Dari perkenalan kami dengan si "Abah" ini barulah kami menyadari, betapa besar arti sebuah sapaan!
sama seperti kita, mereka juga senang dihargai walau hanya dengan sekedar senyum dan sapa di kala kita berjumpa mereka.
betul banget mbak....
ReplyDeletebegitulah, kalau tidak interaksi ya Mba, ngga dibantu
ReplyDeletemari kita budayakan saling menyapa..
ReplyDeleteHallo mba pa kabar.....makasih mba pagi2 dah berkunjung.
ReplyDeleteiya mba Mia, akhirnya kita sendiri juga yang rugi........
ReplyDeletesetuju mba Diyas, menyapa siapa saja tanpa melihat status.
ReplyDelete
ReplyDeletesenyum lah selagi bisa....
sapa lah selagi mampu....
dan... tegurlah selagi hati ikhlas.....
Slamat pagi Dewi..... pa kabaaaarrrr.....
Kabar baik mba Aien.......senyum, sapa dan tegur....hmmm tiga kata yg sederhana namun bisa membahagiakan orang disekitar kita.....dan akhirnya kita pun ikut merasa bahagia juga (karena katanya rasa bahagia itu "contageous" a.k.a menular)
ReplyDelete
ReplyDeletehihihihihi......
betul sekali......
sering orang-orang sederhana seperti abah ini yang malah punya kepedualian sosial yang tinggi dan rigan tangan. Salam buat abah kalau ketemu lagi ya mbak!
ReplyDeleteBener kali ya mbak.... Aku skrg ini khan baru mulai hidup bertetangga... Mau tidak mau, diawal2 aku selalu senyum dan sapa tiap kali melewati mereka.. skrg ini, justru mereka yg selalu menyempatkan diri menyapa tiap kali lewat depan rumah....
ReplyDeleteinspiratif mbak... TFS yaa..
apa yang mba Hany bilang 100% benar........percaya g mba! Abah ini g pernah menjual hasil bertanamnya....semua dia bagi2 kepada tetangganya yg notabene org2 berada....jadi judulnyaAbah yg memberi shadaqah kepada mereka.
ReplyDeleteInsayAllah salamnya saya sampaikan.
ReplyDeletesenang ya mba Beti kalau sapa kita berbalas ...apalagi kalau sampai akhirnya mereka yang menyapa duluan ...jadi pa dulu2 sapa nih.
ReplyDeletetul mbak senyum dan sapa yg ikhlas....merupakan awal silaturahmi.......
ReplyDeletesetuju teh Lely.Silaturahim memang perlu diawali dengan keikhlasan dalam setiap senyum dan sapa kita.
ReplyDelete